
Artikel Psikologi
Penulis : Admin | 2022-07-08 05:19:52 Tweet
APAKAH KAMU SUDAH 100 % “SEHAT”?
Sebagai masyarakat awam, seringkali kita memandang penyakit hanya dari sisi fisiologis saja. Sebagai contoh, penyakit kanker merupakan kelainan dalam pertumbuhan jaringan yang terjadi dalam waktu yang cepat. Padahal, pencetus dari munculnya kanker bukan hanya karena faktor fisiologis saja, namun juga akibat dari faktor kebiasaan individu dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Dalam penanganan penyakit pun, kerapkali kita juga melihatnya dari sisi medis saja, seperti dengan pemberian obat, tindakan operasi, dan sebagainya. Padahal, ada faktor lain yang berperan penting terhadap kesembuhan suatu penyakit, yaitu kondisi psikologis pasien, dan dukungan sosial dari orang-orang di sekitar pasien.
Ada satu ilustrasi yang menarik terkait dengan gangguan fisik dan kesembuhan. Alkisah ada dua orang yang sama-sama mengalami patah tulang. Satu orang di antaranya adalah orang kaya yang tinggal di negara maju dengan berbagai kemudahan dalam mengakses fasilitas kesehatan. Orang kaya tersebut juga mempunyai kondisi finansial yang sangat baik, sehingga ia tidak perlu memusingkan biaya pengobatan yang harus dijalaninya. Sementara itu, sosok lainnya adalah seorang buruh yang hidup di bawah garis kemiskinan di negara berkembang. Akibat dari keterbatasan ekonomi yang dimilikinya, si tukang becak tersebut hanya memperoleh penanganan medis seadanya. Namun ternyata, penghayatan terhadap rasa sakit dari keduanya berbeda, dan berdampak terhadap proses pemulihan.
Walaupun hidup dalam suasana berkecukupan, serta pelayanan medis yang professional, si orang kaya tersebut justru mengalami kesepian. Anak dan isterinya sibuk mengurus bisnisnya, sehingga tidak sempat meluangkan waktu untuk menghibur dirinya. Ia hanya ditemani oleh perawat di bawah pengawasan dokter profesional. Sementara itu, sang buruh justru hidup dalam keramaian keluarga besar dan tetangganya yang mengajak berbicara. Alhasil, setiap hari dilalui dengan canda tawa dan interaksi sosial. Hal ini akhirnya berujung pada perbedaan pada aspek Kesehatan psikologis, dimana si orang kaya mengalami kesepian, kehampaan, dan isolasi sosial. Sementara, si buruh miskin justru merasa didukung, diperhatikan, dan bahkan “melupakan” sejenak sakit fisiknya. Pada akhirnya, si buruh miskin justru menunjukkan kemajuan yang lebih pesat dibandingkan dengan si kaya? Apa penyebabnya?
Jawabannya adalah faktor non-fisik, yakni kondisi psikologis dan lingkungan sosial di sekitar masing-masing individu. Selama berinteraksi dengan teman-teman tunanetra di Yayasan Mitra Netra, saya menemui tunanetra total (totally blind) yang tetap bahagia walaupun sisa penglihatannya nol (0 %). Di sisi lain, saya beberapa kali berbincang dengan pasien dokter mata di salah satu rumah sakit mata di Jakarta yang kondisinya sudah masuk kategori low vision, dan merasa tertekan. Lho, kok bisa, masih punya sisa penglihatan sudah stress berat, sementara sang totally blind malah happy? Jawabannya adalah penghayatan psikologis, dukungan sosial, serta kondisi spiritual.
Pada kenyataannya, penyandang low vision justru mempersepsikan bahwa “dirinya tidak mampu lagi melihat seperti orang normal”, sehingga terjebak dalam aktivitas meratapi kekurangan fisiknya. Sementara, penyandang tunanetra total justru berpikir, “Oke, saya sudah tidak dapat melihat, namun apakah yang masih dapat saya lakukan dengan indera saya yang lain?” Paradigma ini akan membawa pada acara bertindak yang berbeda pula. Penyandang low vision akan berfokus pada kesedihan mendalam dan kegiatan meratapi kehidupan, sementara penyandang tunanetra total mulai mempelajari keterampilan baru yang dapat membantunya untuk dapat bertahan dalam kehidupan. Alhasil, tidak heran apabila beberapa penyandang tunanetra total jauh lebih berkembang dibandingkan dengan penyandang low vision.
Hal menarik berikutnya adalah kebersyukuran. Menerima bahwa dirinya sudah tidak dapat melihat akhirnya berujung pada kesadaran bahwa sang tunanetra total masih memiliki fungsi pendengaran yang baik, dapat menggunakan kaki untuk berjalan, memiliki tangan untuk memegang, serta kemampuan berpikir logis, dan masih banyak lagi. Kebersyukuran membawa pada usaha untuk memberdayakan karunia Tuhan yang masih dapat dimanfaatkan. Sementara, sang low vision terjebak pada ratapan bahwa ia “kehilangan” penglihatan jelas, dan lupa bahwa dirinya masih memiliki banyak hal lain yang bisa diberdayakan. Hingga tak jarang, ratapan tersebut berujung pada Tindakan menyalahkan Tuhan, mengutuk, dan memaki kehidupan.
Dari berbagai ilustrasi di atas, kita dapat melihat bahwa faktor fisiologis bukanlah satu-satunya faktor yang berperan dalam membuat seseorang menjadi sehat. Kondisi psikologis seperti penerimaan diri, penghayatan terhadap gangguan/penyakit yang dialami, maupun cara pandang terhadap penyakit memainkan peranan penting dalam menentukan kesehatan maupun keberhasilan hidup sang individu. Dukungan sosial juga tidak kalah pentingnya dalam menentukan kesehatan seseorang. Dengan adanya kehadiran orang lain di saat kita terpuruk, pemberian kata-kata positif, partisipasi dalam aktivitas bersama orang lain, hingga keterlibatan dalam kegiatan sehari-hari dapat mengalihkan pikiran negatif kita menuju hal-hal yang lebih positif.
Jadi, apapun penyakit yang sedang kamu alami, pastikan bahwa rasa bahagia ataupun sedih bukan sepenuhnya bergantung terhadap penyakit tersebut. Kebahagiaan kita justru terletak pada bagaimana cara pandang kita terhadap penyakit tersebut, dan bagaimana perlakuan orang-orang di sekitar kita terhadap kita. Apapun diagnosa medis yang kita hadapi, justru menjalani intervensi menjadi hal yang sangat penting. Jauhilah toxic person yang hanya mencibir dan memberikan kata-kata destruktif. Carilah lingkungan yang menenangkan kita, memberikan pandangan bahwa banyak sekali nikmat yang masih dapat kita syukuri. Tetap semangat, semua pasti ada jalan keluarnya!
Oleh: Alabanyo Brebahama, M. Psi., Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas YARSI
CO-Founder BPP Consultant
Referensi:
- The Science of Psychology, Laura A King
- Health Psychology (Biopsychosocial Interaction), Edward P. Sarafino dan Timothy, W. Smith
Berikan KomentarS
Komentar