Artikel Psikologi

Penulis : Admin   |   2022-06-30 04:06:15


KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS

 

            Sebagai masyarakat awam, seringkali kita menilai kesejahteraan hanya berdasarkan kriteria fisik dan ekonomi, seperti terpenuhinya kebutuhan akan makanan sehat dan bergizi, tersedianya tempat tinggal yang layak dan nyaman, tercukupinya keperluan akan pakaian yang bersih dan nyaman digunakan., kestabilan kondisi keuangan bahkan kebebasan finansial Akan tetapi, apakah betul terjaminnya kesejahteraan fisik dan ekonomi dapat membuat seseorang benar-benar sejahtera? Fenomena meningkatnya penggunaan obat-obat terlarang di kalangan figur terkenal, meningkatnya kasus stress di kalangan masyarakat hingga berujung pada mudah tersulutnya amarah saat menghadapi masalah sehari-hari, menimbulkan pertanyaan, “apakah kita benar-benar bahagia dan sejahtera?”  

            Banyak di antara para pecandu obat-obatan terlarang mengatakan bahwa mereka ingin mencari kebahagiaan melalui efek “fly” saat di bawah pengaruh narkoba. Dari fenomena tersebut, muncul pertanyaan, sebetulnya, apakah bahagia dan sejahtera itu. Mengapa tercukupinya kebutuhan fisik belum tentu menjamin individu menjadi bahagia dan sejahtera? Hal ini akhirnya mengantarkan kita kepada satu jenis kesejahteraan lain, yakni kesejahteraan psikologis (Psychological Well Being). Salah seorang ilmuwan psikologi Bernama Carol Ryff mengemukakan bahwa kesejahteraan psikologis merupakan persepsi individu bahwa dirinya merasa sejahtera dan berfungsi dengan baik (well functioned). Rasa sejahtera tersebut dibentuk dari enam aspek, yaitu: memiliki makna dan tujuan dalam hidupnya (sense of purpose in life), merasa bahagia dengan keberadaan dirinya beserta kelebihan dan kekurangan yang ia miliki (self-acceptance), merasa bahwa dirinya terus berkembang dan tidak mengalami stagnasi (personal growth), mempunyai hubungan yang positif dengan orang lain di sekitarnya (positive relation with others), mempersepsikan bahwa dirinya mampu menguasai lingkungan di sekitarnya (environmental mastery), dan merasa bahwa dirinya tidak selalu bergantung kepada orang lain (autonomy). Berikut ini adalah penjelasan dari ke enam elemen dari kesejahteraan psikologis (Psychological Well Being), yaitu:

1. Penerimaan Diri (Self-Acceptance)

Sebagai manusia biasa, kita pasti mempunyai karakteristik diri yang unik, mulai dari gambaran fisik, latar belakang keluarga, sosial dan budaya, karakteristik psikologis, dan sebagainya. Hanya saja, manusia seringkali memberikan evaluasi positif dan negatif terhadap berbagai karakteristik tersebut, yang akhirnya berujung pada perasaan suka dan tidak suka terhadap diri sendiri. Apabila individu terlalu banyak mempunyai penilaian negatif terhadap karakteristik dirinya, hal tersebut dapat berujung kepada penolakan diri (denial). Penerimaan diri hanya dapat terjadi apabila kita dapat melihat sisi positif dan negatif diri kita secara berimbang, dan dapat mentoleransi adanya kekurangan dalam diri kita.

2. Memiliki Tujuan dalam Hidup (Purpose in Life)

Hidup tanpa tujuan akan membuat segalanya kelihatan penitng dan baik untuk dilakukan. Alhasil, kita tidak mempunyai sense of urgency maupun sense of importance. Pada akhirnya, kita akan terombang-ambing dalam ketidakpastian dalam pergaulan, merasa sulit memastikan kelompok pergaulan mana yang sejalan dengan tujuan hidupnya. Tujuan hidup akan membantu kita untuk memfokuskan waktu, tenaga, dan pikiran kita untuk mencapai hal yang sudah ditetapkan. Tujuan inilah yang akan menentukan kesuksesan kita. Jadi, kesuksesan adalah keberhasilan kita dalam mencapai tujuan personal, bukan ditentukan oleh jabatan, materi dan kondisi finansial semata.  Perkembangan positif (kemajuan) dalam pencapaian tujuan inilah yang akhirnya memberikan makna dalam kehidupan kita.

3. Pertumbuhan dan Perkembangan Pribadi (Personal Growth)

Pertumbuhan personal berhubungan dengan persepsi individu bahwa dirinya semakin banyak memperoleh pengalaman dari kehidupan, dan dapat memetik pelajaran berharga dari berbagai kejadian yang dialaminya dalam keseharian. Aspek ini juga menggambarkan sejauh mana individu merasa dirinya berkembang dalam berbagai area keterampilan.

4. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relation With Others)

Hubungan positif dengan orang lain bukan hanya diindikasikan dengan jumlah (kuantitas) teman yang kita miliki, melainkan dinilai berdasarkan kualitas hubungan dengan orang lain di sekitar kita. Dengan adanya hubungan positif, kita dapat merasa memperoleh dukungan sosial dari orang lain (social support), dapat berbagi cerita mengenai hal yang bersifat pribadi, hingga dapat mengekspresikan pikiran dan perasaan kita tanpa ragu.

5. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

Aspek ini merupakan persepsi individu mengenai sejauh mana dirinya dapat mengendalikan dan memanipulasi lingkungan sekitarnya agar dapat memenuhi kebutuhannya, seperti meminta orang lain untuk melakukan sesuatu.

6. Kemandirian (Autonomy)

Perasaan tidak bergantung kepada orang lain dapat meliputi perasaan mampu untuk mengutarakan pikiran dan perasaannya tanpa ragu kepada orang lain, persepsi bahwa dirinya dapat berbeda pendapat dengan orang di sekitar kita tanpa merasa cemas, merasa mempunyai kemandirian dalam hal menata kehidupannya sehari-hari, mempunyai tempat tinggal dan gaya hidup yang sesuai dengan keinginannya,

       Apakah anda sudah merasa memenuhi keenam aspek tersebut? Apakah anda benar-benar merasa sejahtera secara psikologis? Hanya anda yang dapat menjawab pertanyaan tersebut. Apabila jawabannya adalah “tidak”, hal ini menandakan anda membutuhkan teman untuk berdiskusi. Paling tidak rekan yang mampu membuat anda nyaman dengan diri anda sendiri, dan mampu membuat anda menyadari betapa uniknya diri anda. Jangan ragu untuk mencari rekan diskusi ketika anda merasa sedang tidak sejahtera. Itulah salah satu makna kehadiran kami sebagai psikolog profesional, menjadi rekan pendengar aktif yang membantu anda merasa lebih sejahtera secara psikologis.

 

Oleh: Alabanyo Brebahama, M. Psi., Psikolog

Dosen Fakultas Psikologi Universitas YARSI

CO-Founder BPP Consultant


Artikel Lainnya



We'are Open



Mohon Maaf lahir dan Batin



Libur Praktek Psikolog dan Terapis




Berikan KomentarS


Email Anda

Nama Anda

Komentar


Komentar