
Artikel Psikologi
Penulis : Admin | 2022-06-30 04:07:13 Tweet
NATURE VERSUS NURTURE
Dalam kehidupan ini, setiap organisme dapat tumbuh dan berkembang sebagai hasil dari interaksi dua faktor, yaitu Nature dan Nurture. Nature merupakan faktor genetik yang membuat organisme itu dapat mewujudkan potensi perkembangannya menjadi seperti yang tertuang dalam cetak biru (DNA). Faktor Nature inilah yang menyebabkan kita tumbuh sesuai dengan cetak biru kita, dan membuat kita mirip dengan kedua orangtua kandung kita. Nature dapat diibaratkan 23 pasang kromosom yang berisikan informasi genetik dalam tubuh kita, seperti warna rambut, tinggi badan maksimal kita, kemampuan inteligensi kita, hingga bagian organ tubuh kita yang rentan terhadap gangguan. Faktor Nature (genetik) merupakan hal yang sulit kita kontrol karena sudah terberi secara otomatis. Kita tidak dapat menentukan bagaimana karakteristik tubuh kita saat kita masih dalam kandungan. Sebab, begitu terjadi pertemuan sel sperma dan sel telur kedua orangtua kita, maka disanalah takdir kita dibentuk, yaitu 23 pasang kromosom yang mendasari cetak biru kita. Mengapa saya menyebutnya sebagai takdir? Sebab, informasi genetika yang terkandung dalam 23 pasang kromosom tersebut sangatlah rumit dan tidak dapat diubah. Perubahan sedikit saja dalam informasi genetika tersebut dapat menumbulkan kecatatan, seperti: Down Syndrome.
Alih-alih menyesali faktor genetik yang sudah terberi, kita masih dapat mengendalikan faktor Nurture (lingkungan) yang tidak kalah pentingnya. Faktor lingkungan memainkan peranan yang juga tidak kalah pentingnya dengan faktor genetik. Jika diibaratkan sebuah biji tanaman, faktor lingkungan merupakan sinar matahari, air dan kelembapan yang cukup, komposisi kandungan gas dalam udara, hingga faktor alam lain yang memungkinkan biji tersebut tumbuh menjadi tanaman. Bayangkan jika biji buah mangga dari pohon yang kuat dan kokoh kita taruh di gurun sahara, tentunya tidak dapat tumbuh. Apabila biji tersebut kita taruh di hutan Amazon yang subur, pastinya biji tersebut dapat tumbuh dengan subur. Inilah yang dimaksud dengan faktor Nurture (lingkungan).
Terkait dengan kekurangan fisik yang kita alami, kita tidak dapat mengendalikan apa yang sudah terjadi. Saya terlahir dengan kondisi mata yang lemah jika dibandingkan dengan orang pada umumnya, sehingga saya mudah mengalami kelainan refraksi, dan rentan terhadap benturan. Istri sayapun mengalami Glaukoma yang sudah membuat syaraf optiknya mengalami kerusakan, dan tidak dapat dipulihkan. Namun, muncul pertanyaan, apakah kita harus menangisi hal ini ?. Apakah kita juga harus selalu mencemaskan kondisi keluarga maupun keturunan kita yang mungkin akan mengalami hal serupa? Jika menghubungkannya dengan konsep Nature versus Nurture, justru kita dapat melakukan sesuatu dengan informasi tersebut.
Jika secara genetika kita memiliki potensi untuk bidang bahasa dan public speaking, tentunya kita dapat memilih lingkungan yang menstimulasi kita untuk mendengar informasi bermanfaat, serta memberikan komentar. Kita tidak perlu gusar jika kesulitan untuk menggambar ataupun mengerjakan hal-hal keteknikan. Bahkan, dengan adanya stimulasi terhadap warisan genetik tersebut, kita dapat menjadi sosok yang memiliki strength dalam bidang Bahasa dan public speaking, dan akhirnya mampu memberdayakan orang lain untuk membantu kita untuk mengatasi kelemahan. Lalu, bagaimana dengan anak kita? Tuntutan akademik seringkali membuat kita berharap anak-anak mampu untuk memenuhi seluruh tuntutan kurikulum. Namun, perlu diperhatikan, “tidak ada gading yang tak retak”. Setiap anak mempunyai strength dan weakness-nya masing-masing. Membantu anak mengatasi kesulitan pada suatu bidang memang diperlukan, namun jangan sampai akhirnya kita melupakan strength dari anak kita. Seorang B.J. Habibie hebat dalam bidang teknologi, namun memerlukan sosok seperti Steve Jobs dan Bill Gates, beliau tidak akan mampu bekerja nyaman tanpa komputer beserta perangkatnya. Seorang Maudy Ayunda memang cerdas dan berbakat dalam bidang musik, namun tetap membutuhkan kehadiran chef berbakat seperti Rudi Choirudin, ataupun Chef Arnold untuk merasakan hidangan yang spektakuler. Jadi, setiap individu terlahir dengan keunikan masing-masing. Faktor genetika bukan untuk diratapi dan disesali, namun perlu kita pelajari dan stimulasi! Inilah tujuan asesmen psikologi, yaitu mencari keunikan diri kita dan buah hati kita. Tujuannya adalah membantu mengetahui strength, dan menentukan stimulasi yang tepat, serta menghindari munculnya tantangan ketika ada bagian yang dianggap rentan. Lalu, apa itu asesmen psikologi?
Oleh: Alabanyo Brebahama, M. Psi., Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas YARSI
CO-Founder BPP Consultant
Berikan KomentarS
Komentar